FONOLOGI
BAHASA IDONESIA
FONEM
DASAR DAN PROSEDUR ANALISIS
Disusun Oleh : Kelompok 5
Nama :1. Andi Berka NIM 141320003
2. Verginia Pratiwi Putri NIM
141320008
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BINA DARMA
PALEMBANG
2015/2016
FONEM DASAR DAN
PROSEDUR ANALISIS
1.Definisi Fonem Dan
Jenisnya
Fonem
adalah bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Berdasarkan
rumusan tersebut jelas bahwa fonem mempunyai “fungsi pembeda”,yaitu pembeda
makna.Pengartian fonem juga bisa diarahkan pada distribusinya, yaitu perilaku
bentuk linguistik terkcil dalam bentuk linguistik yang lebih besar.
2. Definisi Fonem Dan
Jenisnya
Fonem
adalah bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Berdasarkan
rumusan tersebut jelas bahwa fonem mempunyai “fungsi pembeda”,yaitu pembeda
makna.Pengartian fonem juga bisa diarahkan pada distribusinya, yaitu perilaku
bentuk linguistik terkcil dalam bentuk linguistik yang lebih besar.
3. Dasar-Dasar Analisis
Fonem
Dasar-dasar
analisis fonem adalah pokok-pokok pikiran yang dipakai sebagai pegangan untuk
menganalisis fonem-fonem suatu bahasa.Pokok –pokok pikiran tentang bunyi
berbentuk pernyataan-pernyataan yang lumrah atau maklum sehingga tidak perlu
dipersoalkan lagi, maka pokok-pokok pikiran itu bisa disebut premis-premis.
Pokok-pokok pikiran adalah sebagai berikut:
Pokok-pokok pikiran adalah sebagai berikut:
1.
Bunyi-Bunyi Suatu Bahasa Cenderung Dipengaruhi oleh lingkungannya
Premis ini bisa dibuktikan dengan deretan bunyi pada kata-kata bahasa Indonesia berikut:
[nt] pada [tinta] dan [ṇḍ] pada [tuṇḍa]
[mp] pada [mampu] dan [mb] pada [kәmbar]
[ñc] pada [piñcaƞ] dan [ƞg] pada [taƞga]
[ƞk] pada [nanka] dan [ñj] pada [panjaƞ]
Deretan bunyi tersebut saling mempengaruhi dan saling menyesuaikan demi kemudahan pengucapan.
Premis ini bisa dibuktikan dengan deretan bunyi pada kata-kata bahasa Indonesia berikut:
[nt] pada [tinta] dan [ṇḍ] pada [tuṇḍa]
[mp] pada [mampu] dan [mb] pada [kәmbar]
[ñc] pada [piñcaƞ] dan [ƞg] pada [taƞga]
[ƞk] pada [nanka] dan [ñj] pada [panjaƞ]
Deretan bunyi tersebut saling mempengaruhi dan saling menyesuaikan demi kemudahan pengucapan.
2. Sistem Bunyi Suatu
Bahasa Berkecenderungan Bersifat Simetris
Kesimetrisan
sistem bunyi ini bisa dilihat pada bunyi-bunyi bahasa Indonesia berikut.Selain
ada bunyi hambat bilabial[p]dan [b],juga ada nasal bilabial[m].Selain ada bunyi
hambat dental[t] dan [d],juga ada bahasa nasal dental [n].Pemikiran pola
simetris ini bisa dikembangkan pada sistem bunyi lain ketika menemukan
fonem-fonem yang menyangkut bunyi-bunyi bahasa yang diteliti,baik pola-pola
atau sistem pengucapan maupun pola-pola atau sistem fonemnya.
3.
Bunyi-Bunyi Suatu Bahasa Cenderung Berfluktuasi
Gejala fluktuasi bunyi ini sering dilakukan penutur bahasa,tetapi dalam batas-batas wajar,yaitu tidak sampai membedakan makna.
Gejala fluktuasi bunyi ini sering dilakukan penutur bahasa,tetapi dalam batas-batas wajar,yaitu tidak sampai membedakan makna.
4.
Bunyi-Bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak
berkontras apabila berdistribusi komplementer dan atau bervariasi bebas.
Tidak berkontras adalah tidak membedakan makna.bunyi-bunyi dikatakan berdistribusi komplementer apabila bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis itu saling mengekslusifkan.
Contoh:Bunyi[k]dan [?]adalah bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis.Dalam bahasa indonesia,kedua bunyi itu saling mengekslusifkan.bunyi [k]tak pernah menduduki posisi[?]dan bunyi[?]tak pernah menduduki
berkontras apabila berdistribusi komplementer dan atau bervariasi bebas.
Tidak berkontras adalah tidak membedakan makna.bunyi-bunyi dikatakan berdistribusi komplementer apabila bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis itu saling mengekslusifkan.
Contoh:Bunyi[k]dan [?]adalah bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis.Dalam bahasa indonesia,kedua bunyi itu saling mengekslusifkan.bunyi [k]tak pernah menduduki posisi[?]dan bunyi[?]tak pernah menduduki
5.
Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan ke
dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama atau mirip.
Mengetahui kontras tidaknya bunyi-bunyi suatu bahasa dilakukan dengan cara pasangan minimal,yaitu penjajaran dua atau lebih bentuk bahasa terkecil dan bermakna dalam bahasa tertentu yang secara ideal(berbunyi)sama,kecuali satu bunyi yang berbeda.
Contoh:[tari] -[dari]
[paku]-[baku]
dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama atau mirip.
Mengetahui kontras tidaknya bunyi-bunyi suatu bahasa dilakukan dengan cara pasangan minimal,yaitu penjajaran dua atau lebih bentuk bahasa terkecil dan bermakna dalam bahasa tertentu yang secara ideal(berbunyi)sama,kecuali satu bunyi yang berbeda.
Contoh:[tari] -[dari]
[paku]-[baku]
Prosedur Analisis Fonem
Prosedur
yang dilakukan para linguis dalam analisis fonem:
1. Mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis
Korpus data ini bisa dari ucapan kata-kata terpisah dari penutur asli bahasa yang diteliti,percakapan sehari-hari,cerita –cerita pribadi.
1. Mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis
Korpus data ini bisa dari ucapan kata-kata terpisah dari penutur asli bahasa yang diteliti,percakapan sehari-hari,cerita –cerita pribadi.
2.
Mencatat bunyi yang ada dalam korpus data ke dalam peta bunyi.
Depan
Tengah Belakang
Tinggi I U
Agak Tinggi I ә
Agak Rendah ԑ O
Rendah a
Tinggi I U
Agak Tinggi I ә
Agak Rendah ԑ O
Rendah a
3.
Memasangkan bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonetis.
Bunyi-bunyi dikatakan mempunyai kesamaan fonetis apabila bunyi-bunyi tersebut terdapat pada lajur sama,kolam sama atau pada lajur dan kolam yang sama.
Contoh:1)[p]-[p’]
2)[p]-[b]
3)[t]-[t’]
Bunyi-bunyi dikatakan mempunyai kesamaan fonetis apabila bunyi-bunyi tersebut terdapat pada lajur sama,kolam sama atau pada lajur dan kolam yang sama.
Contoh:1)[p]-[p’]
2)[p]-[b]
3)[t]-[t’]
4.
Mencatat bunyi-bunyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaaan fonetis.
Bunyi-bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis adalah bunyi[s],[c]dan [h].
Bunyi-bunyi yang tidak mempunyai kesamaan fonetis adalah bunyi[s],[c]dan [h].
5.
Mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer.
6.
Mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas.
[p] [p]
Golongan 1 Golongan 2 Golongan 2
1)[#pa+pan#] ‘papan’ 3)[#pi+kīr#] 9)[#fi+kīr#]
Kalau [p] dan [f] bervariasi bebas
Ternyata: [f] sebagai onset silaba dalam kata golongan 2-1
[p] sebagai koda silaba bervariasi bebas denfan f dalam kata-kata
golongan 2
[p] sebagai onset silaba dalam kata golongan 1
Jadi [p] dan [f] adalah alofon dari fonem yang sam, pada kata golongan , yaitu fonem /p/ .
[p] [p]
Golongan 1 Golongan 2 Golongan 2
1)[#pa+pan#] ‘papan’ 3)[#pi+kīr#] 9)[#fi+kīr#]
Kalau [p] dan [f] bervariasi bebas
Ternyata: [f] sebagai onset silaba dalam kata golongan 2-1
[p] sebagai koda silaba bervariasi bebas denfan f dalam kata-kata
golongan 2
[p] sebagai onset silaba dalam kata golongan 1
Jadi [p] dan [f] adalah alofon dari fonem yang sam, pada kata golongan , yaitu fonem /p/ .
7.
Mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang
sama(identis).
Contoh:14) [#kԑcap’#] ‘kecap’
18) [#ki+cap’#] ‘kicap’
Lingkungan identis adalah [#k..+cap’#]
Jadi [ɛ] dan [i] adalah alofon dari fonem yang berbeda, yaitu fonem /ɛ/ dan /i/.
sama(identis).
Contoh:14) [#kԑcap’#] ‘kecap’
18) [#ki+cap’#] ‘kicap’
Lingkungan identis adalah [#k..+cap’#]
Jadi [ɛ] dan [i] adalah alofon dari fonem yang berbeda, yaitu fonem /ɛ/ dan /i/.
8.
Mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang
mirip(analogis).
Contoh: 6) [#pa+sar#] ‘pasar’
12) [#bә+sar#] ‘besar’
Lingkungan yang mirip adalah [#p…+sar#] dan [#b…+sar#]
Jadi ,[a]dan [ә] adalah alofon dari fonem yang berbeda ,yaitu fonem /a/ dan /ɘ/.
mirip(analogis).
Contoh: 6) [#pa+sar#] ‘pasar’
12) [#bә+sar#] ‘besar’
Lingkungan yang mirip adalah [#p…+sar#] dan [#b…+sar#]
Jadi ,[a]dan [ә] adalah alofon dari fonem yang berbeda ,yaitu fonem /a/ dan /ɘ/.
9.
Mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan.
Contoh:
[k]: plosif ,velar mati [k]: plosif, palatal mati
7) [#kә+lap’+ kә+lip’# ‘kelap-kelip’ 3) [#pi+kīr#] ‘fikir’
8) [#ku+ku#] ‘kuku’ 9) [fi+ḳīr#] ‘fikir’
Ternyata: [k] jika diikuti oleh vokoid belakang.
[ḳ] jika diikuti oleh vokoid depan
Contoh:
[k]: plosif ,velar mati [k]: plosif, palatal mati
7) [#kә+lap’+ kә+lip’# ‘kelap-kelip’ 3) [#pi+kīr#] ‘fikir’
8) [#ku+ku#] ‘kuku’ 9) [fi+ḳīr#] ‘fikir’
Ternyata: [k] jika diikuti oleh vokoid belakang.
[ḳ] jika diikuti oleh vokoid depan
Jadi,
[k] dan [ḳ] adalah berubah lingkungan
11.
Mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi.
Contoh: 4) [#pa+pa+ya#] ‘pepaya’
16) [pɘ+pa+ya#] ‘pepaya’
Yang tidak berkontras atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, kedua bunyi korpus tersebut dianggap sebagai bunyi yang berfluktuasi.
Contoh: 4) [#pa+pa+ya#] ‘pepaya’
16) [pɘ+pa+ya#] ‘pepaya’
Yang tidak berkontras atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, kedua bunyi korpus tersebut dianggap sebagai bunyi yang berfluktuasi.
12.
Mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri.
Contoh: [s],[c],[h].
Bunyi-bunyi tersebut dianggap sebagai fonem tersendiri,yaitu/s/,/c/,/h/.
Contoh: [s],[c],[h].
Bunyi-bunyi tersebut dianggap sebagai fonem tersendiri,yaitu/s/,/c/,/h/.
11.
Mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi.
Contoh: 4) [#pa+pa+ya#] ‘pepaya’
16) [pɘ+pa+ya#] ‘pepaya’
Yang tidak berkontras atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, kedua bunyi korpus tersebut dianggap sebagai bunyi yang berfluktuasi.
Contoh: 4) [#pa+pa+ya#] ‘pepaya’
16) [pɘ+pa+ya#] ‘pepaya’
Yang tidak berkontras atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, kedua bunyi korpus tersebut dianggap sebagai bunyi yang berfluktuasi.
12.
Mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri.
Contoh: [s],[c],[h].
Bunyi-bunyi tersebut dianggap sebagai fonem tersendiri,yaitu/s/,/c/,/h/.
Contoh: [s],[c],[h].
Bunyi-bunyi tersebut dianggap sebagai fonem tersendiri,yaitu/s/,/c/,/h/.
Soal !!
1.
Sebutkan prosedur analisis fonem? (Mega
Agustiana)
2.
Jelaskan pengertian analisis fonem?
(Midra Azrianti H)
Jawaban
1.
Prosedur analisis fonem
a. Mencatat
korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis
b. Mencatat bunyi yang ada dalam korpus data ke
dalam peta bunyi.
c. Memasangkan
bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonetis.
d. Mencatat
bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer
2.
Fonem adalah bunyi terkecil suatu bahasa
yang berfungsi membedakan makna. Berdasarkan rumusan tersebut jelas bahwa fonem
mempunyai “fungsi pembeda”,yaitu pembeda makna.Pengartian fonem juga bisa
diarahkan pada distribusinya, yaitu perilaku bentuk linguistik terkcil dalam
bentuk linguistik yang lebih besar.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta:Rineka Cipta.
Muslich,
Masnur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta:
Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar